FUTURE WORLD

Di sebuah kota bernama Neo‑Jakarta, tahun 2147, langit selalu berwarna biru pekat yang disela‑sela oleh cahaya hijau neon dari menara‑menara vertikal yang menjulang seperti hutan baja. Awan‑awan buatan, yang diproduksi oleh satelit‑satelit pengatur iklim, meluncur perlahan di atas atap‑atap yang tertutup panel surya transparan. Di jalan‑jalan, kendaraan tanpa roda meluncur di atas jalur magnetik, sementara drone pengantar makanan berderak lembut di antara gedung‑gedung yang memancarkan hologram iklan yang berubah‑ubah setiap detik.

Mira, seorang insinyur biotek berusia 32 tahun, melangkah keluar dari apartemennya di lantai 78. Kacamata realitas terpadunya menampilkan lapisan data tentang suhu, kualitas udara, dan jadwal kereta levitasi yang akan ia naiki. “Selamat pagi, Mira,” sapa asisten pribadi AI‑nya, suara lembut mengalun di telunganya. “Anda memiliki rapat dengan tim proyek Mars Habitat dalam 15 menit. Cuaca di luar cerah, indeks polusi 0,2 ppm.”

Mira tersenyum. Di masa ini, polusi hampir tidak lagi menjadi ancaman; energi bersih telah menggantikan bahan bakar fosil sejak pertengahan abad ke‑21. Pembangkit listrik tenaga fusi kompak, yang dibangun di pulau-pulau buatan di Samudra Pasifik, menyediakan daya tak terbatas bagi seluruh planet. Namun, meskipun teknologi telah melampaui impian para penulis fiksi, manusia tetap harus beradaptasi dengan perubahan iklim yang tak dapat diprediksi sepenuhnya.

Reta, sahabat sekaligus rekan kerja Mira, menunggu di stasiun levitasi. Tubuhnya tampak biasa, namun di dalamnya terdapat jaringan saraf sintetis yang memungkinkan ia mengendalikan mesin hanya dengan pikiran. “Kamu sudah lihat prototipe kulit sintetis yang bisa merasakan suhu?” tanya Reta sambil melambaikan tangannya, memanggil sebuah panel holografik yang menampilkan lapisan tipis berwarna perak.

“Ya, itu akan menjadi terobosan bagi koloni di Mars. Tanpa atmosfer yang tebal, kita butuh kulit yang bisa menyesuaikan suhu secara otomatis,” jawab Mira, matanya berkilau. “Kalau kita berhasil, manusia tidak lagi harus hidup di dalam kubah bertekanan. Mereka bisa berjalan di permukaan Mars seperti di Bumi.”

Kereta levitasi meluncur tanpa suara, mel melewati taman‑taman vertikal yang menggantung di sisi menara. Di sana, pepohonan yang direkayasa secara genetik menghasilkan oksigen lebih banyak daripada hutan hujan Amazon pada abad ke‑20. Burung‑burung robotik terbang di antara dedaunan, memantau kesehatan flora dan mengirim data ke pusat kontrol lingkungan.

Mereka tiba di laboratorium utama, sebuah ruang berdiameter 30 meter yang dipenuhi oleh peralatan berteknologi tinggi. Di tengah ruangan, sebuah kapsul berisi seorang sukarelawan—seorang pria berusia 45 tahun—sedang beristirahat. Kulit sintetis yang sedang diuji menutupi seluruh tubuhnya, berkilau seperti logam cair. Monitor menampilkan grafik suhu tubuh, denyut jantung, dan tingkat oksigen.

“Bagaimana rasanya?” tanya Mira, menatap mata pria itu.

“Seperti berada di dalam air hangat,” jawabnya dengan senyum. “Tapi ada sensasi ringan, seolah-olah kulit saya bisa merasakan angin Mars sekaligus sinar matahari Bumi.”

Data mengalir ke komputer pusat, dan AI menganalisis setiap variabel. “Prediksi adaptasi 98% dalam 72 jam,” sapa AI dengan nada tenang. “Kulit sintetis ini dapat menurunkan kebutuhan pendinginan internal sebesar 63%.”

Mira menatap Reta, keduanya tahu bahwa mereka berada di ambang revolusi baru. Namun, di balik kegembiraan itu, ada kekhawatiran yang tak terucapkan. Meskipun energi bersih dan teknologi canggih telah mengubah dunia, manusia masih bergentayangan di antara bintang‑bintang, mencari tempat baru untuk bertahan.

Beberapa bulan kemudian, roket berawak pertama yang menggunakan bahan bakar anti‑materi meluncur dari pangkalan di Luna, membawa serta koloni pertama yang akan menetap di Mars. Di dalam kapsul, Mira dan Reta menjadi bagian dari tim yang menginjakkan kaki di tanah merah itu. Saat mereka melangkah keluar, debu Mars menempel pada sepatu mereka, tetapi kulit sintetis menyesuaikan suhu secara otomatis, membuat mereka merasa seolah‑olah berjalan di pantai tropis.

Matahari terbenam di cakrawala Mars, memancarkan cahaya oranye yang menembus atmosfer tipis. Di kejauhan, menara‑menara habitat tampak berkilau, dibangun dari bahan komposit yang diproduksi di orbit dan dikirim ke permukaan. Kota itu, meski masih kecil, adalah bukti bahwa manusia dapat membangun peradaban di dunia yang tak ramah.

Mira menatap langit yang kini dipenuhi bintang lebih jelas daripada di Bumi. “Kita pernah berpikir bahwa bahan bakar fosil akan menjadi akhir dari peradaban,” katanya pelan. “Tapi ternyata, itu hanyalah awal. Kita belajar mengontrol energi, mengolah materi, bahkan mengubah diri kita sendiri.”

Reta mengangguk, memandang ke arah horizon. “Dan sekarang, kita menulis bab baru di planet lain. Semoga kita tidak mengulangi kesalahan yang sama.”

Di Bumi, kota Neo‑Jakarta terus berdenyut. Menara‑menara hijau menyerap sinar matahari, panel surya mengkonversi cahaya menjadi listrik, dan AI mengatur aliran energi dengan presisi. Anak‑anak belajar tentang sejarah bahan bakar fosil di sekolah, bukan sebagai nostalgia, melainkan sebagai pelajaran tentang bagaimana satu generasi dapat mengubah arah peradaban.

Masa depan tidak lagi menjadi misteri yang menakutkan, melainkan kanvas yang menunggu sentuhan kreatif manusia. Dengan setiap langkah di Mars, dengan setiap inovasi di laboratorium, dengan setiap keputusan untuk menghemat energi, mereka menulis cerita yang tak akan pernah berakhir—sebuah kisah tentang harapan, penemuan, dan keberanian untuk melangkah ke tempat yang belum pernah dijelajahi.

By:Abil 

Comments

Popular posts from this blog

I am Abil

Yang akan terjadi jika korupsi terus terjadi hingga 2035