FUTURE WORLD
Di sebuah kota bernama Neo‑Jakarta, tahun 2147, langit selalu berwarna biru pekat yang disela‑sela oleh cahaya hijau neon dari menara‑menara vertikal yang menjulang seperti hutan baja. Awan‑awan buatan, yang diproduksi oleh satelit‑satelit pengatur iklim, meluncur perlahan di atas atap‑atap yang tertutup panel surya transparan. Di jalan‑jalan, kendaraan tanpa roda meluncur di atas jalur magnetik, sementara drone pengantar makanan berderak lembut di antara gedung‑gedung yang memancarkan hologram iklan yang berubah‑ubah setiap detik. Mira, seorang insinyur biotek berusia 32 tahun, melangkah keluar dari apartemennya di lantai 78. Kacamata realitas terpadunya menampilkan lapisan data tentang suhu, kualitas udara, dan jadwal kereta levitasi yang akan ia naiki. “Selamat pagi, Mira,” sapa asisten pribadi AI‑nya, suara lembut mengalun di telunganya. “Anda memiliki rapat dengan tim proyek Mars Habitat dalam 15 menit. Cuaca di luar cerah, indeks polusi 0,2 ppm.” Mira tersenyum. Di masa ini, polu...